selebrity dan tugas mereka yang absurd sebagai role models

“PENGAKUAN MENCENGANGKAN” atau IDIOTIC?

pagi ini saya terbangun dengan keadaan televisi menyala dan sedang menyiarkan acara infotainment. kali  ini liputannya bukan tentang selebrity indonesia yang mendadak pada dermawan dan atau tampil soleh tertutup selama bulan ramadhan ini, justru sebaliknya. kalau liputan tentang “justru sebaliknya” ini terjadi di luar bulan ramadhan, mungkin saya akan santai saja mendengarnya. c’mon selebrity indonesia itu sudah infamous di mata saya. lebih banyak masuk media karena skandal daripada prestasi.

liputan yang sifatnya “justru sebaliknya” di bulan ramadhan ini datang dari pemain sinetron sebut saja namanya Dinda. infonya dia pemain sinetron populer dari yang sedang naik daun “Cinta Fitri”, dengan peran antagonis utama. ternyata citra antagonis wanita ini tidak hanya berakhir sampai di depan kamera saja. tanpa malu Dinda mengatakan kepada team Insert! bahwa dia tidak menjalankan ibadah puasa. alasannya bukan sekedar karena sakit atau berhalangan sehingga tidak bisa menunaikan ibadah yang wajib di jalankan umat muslim selama ramadhan itu, tetapi juga karena dia mengaku tidak kuat dan memang sengaja tidak berpuasa. padahal dia sudah akhil baliq (dewasa).

sebenarnya kekecewaan terbesar saya bukan dibagian pengakuan jujur pemeran opera sabun tersebut. siapa saya sampai boleh mengejudge seseorang dari keimanannya. benar argument dia, “mau dia dosa mau dia masuk neraka itu tanggungan dia karena dia sudah dewasa” (redaksi lengkapnya tidak ingat tapi kurang lebih Dinda beralasan seperti itu).

yang saya kecewakan adalah sikap dia yang tidak peduli bahwa dia adalah publik figure, sadar atau tidak sadar masyarakat selalu menaruh perhatian dan sedikit banyak menyontoh dirinya. terutama generasi muda dan anak-anak yang pada masa sekarang ‘asupan gizi’-nya tidak bisa dipungkiri sangat besar didapat dari televisi dan internet. dia secara tidak langsung telah menarik anak muda dan anak anak pengamat dirinya untuk ikut meninggalkan kewajiban agama. karena tidak sensitifnya dia, ketidakmampuannya menjaga citra baik. trying to be bad ass, while it’s still inappropriate in this country to do such a thing.

mungkin bakal ada argumen yang mengatakan “wah kalau begitu negara mu itu yang kolot dan segala macam. budaya mu mengekang dan segala macam”. bung, ‘di mana tanah dipijak di situ langit dijunjung’. kritik saya tidak berakhir pada sang figure tapi juga buat acara yang bersangkutan, karena telah memberi jalan pada Dinda untuk secara tidak langsung berkotbah (disadari atau tidak, disengaja atau tidak. itu adalah tanggung jawab dia sebagai publik figur) kepada masyarakat bahwa “ayolah, it’s not a big deal for you to not doing well in religion duty, i can do it, why can’t you?”

meskipun sisi baiknya pembawa acara masih menunjukkan ketidakterimaannya akan sikap Dinda, mengritik dan menyindir sikap dia tersebut. tapi apakah sindiran ini bisa menjadi filter agar penonton bisa menyaring sikap Dinda sebagai yang tidak patut di ikuti tidak ada yang bisa menjamin.

MEDIA JUGA SALAH?

Dinda bukan publik figure pertama dan satu2nya yang sudah lupa pada posisinya sebagai publik model di masyarakat dan berakhir dengan menunjukkan sikap & terlibat dengan sesuatu yang tidak terpuji. cuman yang metodenya seperti Dinda ini yang belum banyak: dengan sadar mengungkapkan kekurangan dan ketidakpedulian dia.

tidak setiap hari kira melihat orang berkoar2 di televisi sambil berkata:

“Hai, aku suka free sex/ngedrugs/selingkuh/tidak menjalankan perintah agama dan aku akan masuk neraka karenanya; tapi orang tua ku sudah ku bilangin bahwa ini dosa, dosa aku jadi biarin aja”

contoh lain adalah publik figur Andi S (wanita) yang dengan bangga mengaku bahwa dirinya lebih memilih kumpul kebo daripada menikah, bedanya masih ada adat & hukum yang membantu penonton untuk menyaring informasi/ajakan tidak senonoh dari selebrity yang satu ini. agama apapun pasti tidak meridhoi sikap2 insensitif semacam ini di media.

MENGHENTIKAN AJAKAN DOSA LEWAT MEDIA

apakah harus ada lembaga khusus untuk menyekolahkan artis artis ini yaa? sebab di mata saya kelakuan mereka seperti orang tidak berpendidikan saja. okelah akan pada bilang: ini ga cuman terjadi di Indonesia, di luar negeri, di mana-mana, pasti ada publik figure nyeleneh. ya lalu apa kita akan memakluminya begitu saja? membiarkan kebobrokan moral yang dialami oleh para petenar diserap oleh para generasi muda bahkan orang dewasa yang lemah dinding filter dirinya? tidak, saya berkata tidak.

solusi yang saya tawarkan adalah pertama2 bagi media tolong di saring dengan baik informasi2 yang masuk dan disebarkan. selalu sediakan komentar & atau komentator yang kritis di setiap acara untuk menekankan point bahwa sikap2 yang ditunjukan tidak terpuji dan sebagainya. karena kalau dari sudut artisnya saya rasa susah, star sindrom bisa bikin orang jadi sangat2 brengsek. dan buruknya lagi, banyak dari mereka yang bangga jadi brengsek.

hambatannya: kontroversi, skandal dan aib adalah sumber hiburan paling menarik bagi warga dunia jaman sekarang. jika semua yang tampil di televisi adalah malaikat2 baik, maka penonton akan mengantuk. ironis memang, kita senang menonton orang lain jatuh, bertabrakan atau terluka. tapi tidak ingin itu terjadi kepada atau di dekat kita..

7 Responses to “selebrity dan tugas mereka yang absurd sebagai role models”

  1. Setuju sama kamu, Danti.
    Aku suka sama tulisanmu ini.

  2. edlyn fhae Says:

    Dan satu lagi, perlu kepedulian dari orang-orang yang ngerasa, and minimal ngaku masih waras buat ikut aktif memfilter informasi yang brengsek2 itu sebelum jatuh ke tangan orang-orang yang memiliki tingkat pola pikir yang rendah, sebisanya…

    Kalau kayak gue, biasanya gue ajakin nonton adik gue ipin dan upin…
    seru banget tuh acara…*kocak2 polos gitu deh…*

  3. Jiaaaaaaaaaaaah…..setuju aku dengan kaw…..

    secara ga langsung….nyadar ato ga…..mau ato ga….. mereka itu sebenarnya role model yang harusnya bisa jaga sikap,,, karena apa yang mereka katakan dan lakukan akan banyak tersorot media dan kemudian ditayangkan lewat layar kaca. bukan berrati mereka harus pake ‘topeng’ all the time lho yaa…..karena mereka juga manusia biasa. Yah paling ga mereka taw mana yang pantas jadi konsumsi publik n mana yang ga…mana yang bakal jadi contoh yang baik n mana yang bakal jadi pengaruh buruk buat orang lain….

    btw gw dah 2 minggu ga nonton cinta fitri nee…..uda sampai mana critanya??? aaaaahhhhhhhh

  4. media dan artis memang memiliki motivasi untuk menjadi trendsetter, mereka harus se-dinamis mungkin demi merebut perhatian dan meningkatkan ratting.
    hal itu terjadi karena artis itu sadar bahwa dia adalah public figure makanya dia berlaku seperti itu.
    kadang2 kita di hadapkan dengan orang yang berbeda pola pikir dan cara pandang.
    menurut ku dia bicara jujur, dan itu sikap yang hanya berlaku untuk dirinya secara pribadi, toh pertanyaan yang di ajukan presenter pun pertanyaan tentang pribadi si artis. dia tidak memaksakan apa yang di lakukannya kepada orang lain.
    jika pertanyaannya apakah anda puasa? maka di jawab saya puasa atau tidak puasa, jika pertanyaannya mengnapa anda tidak puasa, maka di jawab saya tidak mau dan tidak kuat berpuasa, itu adalah percakapan yang wajar dan tidak bernada mempengaruhi pihak lain.
    artis tersebut tidak menjawab dengan “buat apa puasa, itu hanya ritual bodoh dan menyusahkan saja, tak ada gunanya, yang ada cuma kepalaran dan bikin sakit kepala” nah kalo ini yang di ungkapkan baru bisa di respon dengan penolakan atau yang lebih bijak adalah meminta untuk meralat dan mengnklarifikasi kata-katanya.

    • terimakasih mas akew atas tanggapannya :D / terimakasih saya mendapat pandangan dari kacamata lain :)

      well saya melihat hal ini pengaruhnya pada anak anak muda yang banyak jadi konsumen/fans artis tersebut sih, dan seperti yang telah saya tulis jawaban artis tadi dilanjutkan dengan argumen “mau gw dosa mau gw masuk neraka itu tanggungan gw karena gw sudah dewasa” (ini dihubungkan dengan pertanyaan “apa tanggapan ibu”-nya saat itu).
      saya khawatir, sikap dan tanggapan seperti ini mempengaruhi para konsumen/penonton muda mengingat dia seperti kata mas adalah seorang trendsetter. begitu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.